Kamis, 10 Agustus 2017

Apa Kamu Menjual Produk yang Tidak Dicari Pembeli?

Menjual Produk | Transaksi
Ikhtisar

  • Membuat produk yang memang benar-benar diinginkan orang, menyampaikan nilai dari produk yang dibuat, dan menghadirkan produk yang benar-benar siap ketika orang membelinya adalah tiga kunci kesuksesan sebuah produk.

Strategi pemasaran terbaik melibatkan pengujian kecocokan produk terhadap pasar (product market fit) dan validasi ide dengan minimum viable product (MVP). Jadi, secara teori, jangan pernah menjual produk jadi — baik barang maupun jasa — yang tidak menarik bagi konsumen.

Terlepas dari asumsi tersebut, bagaimanapun, saya masih meihat para “calon” entrepreneur yang bertanya pertanyaan yang sama hingga berulang kali: “Mengapa tidak ada yang mau membeli produk saya?”
Menjual Produk | Transaksi
Sumber: Pexels
Ketika penjualan sedang lesu, beberapa faktor berbeda mungkin saja memegang peranan: Mungkin pendekatanmu terhadap pemasaran dan promosi membutuhkan penyesuaian. Atau mungkin saja kamu belum memiliki reputasi di mata audiens yang kamu bidik.
Dengan memiliki pemahaman atas kesalahan yang kamu lakukan, muncul beberapa pertanyaan:

Apakah masyarakat benar-benar menginginkan apa yang kamu jual?

Menjual Produk | Pembeli Memutuskan
Sumber: Pexels
Akan sangat menggoda untuk menyalahkan perekonomian atau kambing hitam lainnya ketika penjualan bisnismu sedang lesu. Tetapi, dengan daya beli masyarakat yang masih stabil, jelas kamu perlu untuk membenahi satu dan lain hal di dalam bisnis yang kamu jalankan.
Saya juga membantah asumsi di atas. Permasalahan bukan berada pada daya beli masyarakat yang menurun — masalahnya ada pada kamu, yang menjual produk yang tidak ingin mereka beli. Dalam sebuah artikel pada blog Launch Yourself, Melissa Anzman membagikan beberapa pengalaman pahitnya di masa lalu:
“Di sinilah di mana upaya peluncuran saya biasanya berakhir gagal. Saya membuat konten yang sempurna, yang menurut saya akan dibutuhkan oleh audiens saya. (Halo — kamu membutuhkan konten ini, saya ini ahli, dengarkan saya!) Tetapi pada akhirnya, audiens tidak peduli dengan upaya saya dalam menjual produk.”
Pada fase inilah riset pasar sejak dini serta pengujian validasi yang saya sebutkan di bagian sebelumnya mulai berperan. Apabila kamu melihat ketidaktertarikan pengguna terhadap sebuah produk yang kamu tawarkan dalam bentuk fase awalnya, pilihan terbaik untukmu adalah dengan terus melakukan iterasi sebelum memutuskan untuk berinvestasi dalam peluncuran penuhnya.

Apakah kamu berhasil menyampaikan nilai dari produk yang kamu buat?

Menjual Produk | Nilai Produk
Sumber: Pexels
Banyak situasi yang terjadi ketika ada permintaaan terhadap penawaranmu; tetapi masyarakat tidak mengerti apa yang kamu jual atau mengapa mereka harus membeli produk yang kamu buat. Apabila masyarakat tidak melihat adanya nilai dari produkmu, mereka tidak akan membeli. Sesimpel itu.
Alexander Michael Gittens, dalam sebuah post di LinkedIn, menyimpulkan skenario ini dengan baik, dan menyatakan, “Tidak ada yang membeli sebuah produk. Kita sadari atau tidak, kita semua hanya membeli ‘nilai.’”
Gittens kemudian memberikan sebuah contoh, yakni membeli bahan makanan di pasar dan di restoran. Apabila kamu mengabiskan Rp1 juta di masing-masing tempat, kamu akan menghabiskan sejumlah uang yang sama, namun akan mendapatkan dua barang yang nilainya sangat berbeda. Kini pilihanmu, kamu menginginkan bahan makanan yang lebih banyak untuk kebutuhan makanmu selama beberapa hari, atau menghabiskan uang tersebut untuk sebuah makanan jadi yang sangat enak di restoran yang mewah.
Jadi, apakah makna dari “nilai” ini dalam konteks bisnismu, dan bagaimana kamu dapat berkata bahwa kamu telah menerapkan nilai tersebut ketika menjual produk? Sebagai permulaan, data dari BigCommerce menyatakan bahwa tiga besar faktor yang menentukan keinginan orang untuk belanja antara lain: Harga (87 persen), ongkos dan kecepatan kirim (80 persen), serta diskon (71 persen).
Variabel tersebut mungkin atau mungkin tidak dapat diaplikasikan pada perusahaan atau target konsumenmu, tetapi apabila kamu tidak dapat mengetahui apa yang dicari konsumen dari produk yang kamu juga, kamu punya banyak “PR” untuk dibenahi sebelum menjual produk.

Apakah orang-orang sudah siap untuk membeli ketika kamu menghampiri mereka?

Menjual Produk | Transaksi 2
Sumber: Pexels
Perlu diingat bahwa apabila seseorang tidak membeli sesuatu darimu, bukan berarti mereka tidak akan menjadi konsumen produkmu selamanya. Hal ini bisa jadi karena mereka belum siap untuk membeli produk yang kamu tawarkan.
Menentukan waktu yang tepat untuk menjual produk kepada prospek bisnis adalah sebuah seni — layaknya sains. Jadi, perhatikan pertanyaan-pertanyaan berikut untuk mengukur respons waktu penjualan dan pemasaran kamu.
  • Apakah kamu telah mengembangkan konten yang mendukung seluruh fase dari proses pembelian?
  • Apakah kamu telah membangun mekanisme opt-in pada website kamu, agar kamu dapat terhubung dengan calon pelanggan yang belum siap membeli produk?
  • Apa kamu telah mencoba menarget ulang pelanggan yang akan membeli produkmu di masa depan?
  • Apakah kamu salah menentukan waktu promosi kepada prospek yang siap untuk belanja, ketimbang mereka yang masih memutuskan belanja?
Seperti yang dikatakan oleh Derek Halpern dari Social Triggers, “Jangan terlalu agresif sepanjang waktu. Jadilah agresif di saat yang tepat.”
Apabila kamu telah melalui ketiga pertanyaan ini, buatlah perubahan yang dibutuhkan dalam upayamu menyampaikan pesan, membidik serta menentukan pengguna. Apabila kamu masih belum juga melihat hasil, Mungkin sudah waktunya kamu untuk memutuskan bahwa tidak ada yang mau membeli apa yang kamu jual.
Walau sulit kedengarannya, kamu harus menerima kenyataan. Jangan habiskan waktu, uang dan tenaga pada proyek yang gagal. Sebaliknya, gunakan seluruh sumber daya untuk membuat idemu selanjutnya untuk bersinar.
(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh John Patrick Manuwu sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Pradipta Nugrahanto)
sumber