Kamis, 03 Agustus 2017

Artificial Intelligence: Masa Depan “Evolusi” Manusia?

Dimulai dari isapan jempol sekelompok penulis fiksi ilmiah, Artificial Intelligence (AI) kini telah menjadi bagian dalam keseharian kita. Walaupun mungkin masih butuh bertahun-tahun untuk bisa merasakan seorang asisten robot yang membantu pekerjaan kantor kita, tetapi AI kini telah memiliki dampak yang cukup signifikan di berbagai lini kehidupan kita.
Ramalan cuacapenyaring e-mail spamprediksi di mesin pencari, sampai Siri dan Cortana, adalah beberapa contoh dari penggunaan AI di keseharian kita. Apa yang menjadi kesamaan pada sejumlah teknologi tadi adalah algoritma khusus yang memungkinkan teknologi ini dapat bereaksi serta merespon secara real time.
Mungkin jalan kita masih panjang hingga AI dapat menjadi teknologi yang sempurna, tetapi efek positif yang akan dihasilkannya terhadap lingkungan dalam hal efisiensi dan efektifitas sangatlah tidak ternilai.

Bukan temuan baru

Artificial-intelligence-talos|photo
Konsep Artificial Intelligence sebenarnya sudah jauh dipikirkan, bahkan sejak zaman Yunani Kuno. Talos dari Crete, robot perunggu dari Hephaestus, dan Galatea dari Pygmalion menjadi beberapa contoh ide “mesin yang hidup” yang dicetuskan di era tersebut. Walau begitu, konsep dari Artificial Intelligence ini baru sekitar setengah abad lalu berubah dari hanya sebuah mitos menjadi sebuah realitas yang faktual.

Adalah Alan Turing, seorang ahli matematika sekaligus pemecah kode di Perang Dunia ke-2 dari Inggris yang menjadi salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam pencetusan ide tentang teknologi “kecerdasan buatan” ini pada tahun 1950.
Melalui ide-idenya saat itu, istilah artificial intelligence cukup populer pada pertengahan tahun ’50-an. Bahkan hingga Turing meninggal pada tahun 1954, istilah tersebut masih menjadi perbincangan hangat di kalangan peneliti saat itu.
Seorang ilmuwan kognitif Amerika bernama Marvin Minsky akhirnya memutuskan untuk meneruskan tongkat estafet AI dengan membangun sebuah laboratorium khusus AI di Massachusetts Institute of Technology pada tahun 1959 dan menjadi salah satu konseptor utama di bidang AI pada periode 1960 hingga 1970-an.
Minsky bahkan menjadi penasihat pribadi Stanley Kubrick pada filmnya “2001:A Space Odyssey,” yang rilis pada tahun 1968, yang menjadi salah satu gubahannya yang memperkenalkan AI ke khalayak ramai melalui komputer pintar HAL 9000.
Akan tetapi membutuhkan hingga beberapa dekade untuk masyarakat dapat mengenal potensi sebenarnya dari AI. Beberapa figur teknologi terkenal seperti Elon Musk dan Stephen Hawking masih terus memperbincangkan perkembangan artificial intelligence hingga hari ini.
Ketika berbicara tentang dampak positifnya terhadap umat manusia, AI adalah salah satu contoh teknologi yang dapat mengubah sejarah manusia secara keseluruhan, terutama ketika berbicara tentang otomatisasi dan pengolahan data yang masif.
Artificial-intelligence-waze|photo
Fungsi utama dari AI adalah kemampuannya untuk mempelajari data yang diterima secara berkesinambungan. Semakin banyak data yang diterima dan dianalisis melalui algoritma khususnya, semakin baik pula AI dalam membuat prediksi.
Masih belum bisa membayangkan? Ketika kamu bingung memilih game free-to-play di smartphone,Google PlayStore akan memberikan sugesti menarik yang akan mempermudah pemilihan game yang kamu senangi. Atau kamu sedang malas mencari rute perjalanan tercepat ke tujuanmu? Biarkan Waze mencarikannya untukmu.

Artificial Intelligence dalam bisnis

Salah satu dampak terbesar yang terasa dari adanya teknologi AI adalah tempat kerja kita. Teknologi yang dapat “belajar sendiri” ini berhasil meningkatkan produktivitas di kantor secara drastis. Dari mulai pengelolaan workflow hingga prediksi tren dan bahkan mempengaruhi keputusan sebuah brand untuk membeli iklan, AI benar-benar mengubah cara manusia untuk melakukan bisnis.
Artificial-intelligence-workplace|photo
Big data adalah tambang emas untuk para pelaku bisnis, di mana seluruh data yang dibutuhkan untuk pengembangan bisnis tersedia, tetapi banyak perusahaan besar yang tidak mampu mengelolanya. Ya, big data adalah “bahan bakar” dari AI, melihat teknologi ini membutuhkan informasi yang masif untuk dikumpulkan dan dianalisis untuk memberikan hasil yang berguna, dan ini tidak dapat diperoleh dari pemrosesan data secara manual.
Tidak hanya dapat meningkatkan efisiensi di dalam organisasi, AI juga dapat meminimalisir kesalahan yang kemungkinan akan terjadi. AI dapat mendeteksi sebuah pola yang tidak wajar, seperti email penipuan, dan langsung mengirimkan peringatan tentang aktivitas yang mencurigakan tersebut. Lebih lanjut, AI juga dapat “dilatih” untuk meneliti calon pembeli tentang preferensi belanja mereka dari pola unik yang mereka miliki. Whoa.

Membantu atau memusnahkan

Artificial-intelligence-robonaut|photo
Masih banyak sekali potensi untuk pengembangan AI yang menjadikannya sangat dibutuhkan di masa depan. Pada akhir dekade ini, mungkin penggunaan AI sudah menjadi umum di lingkungan sekitar kita, mobil tanpa pengemudi, ramalan cuaca yang sangat akurat, atau bahkan robot. Sebuah robot yang dirancang khusus untuk mendeteksi adanya potensi terorisme atau robot yang menggantikan fungsi astronot? Kini hal tersebut bukan mimpi lagi dengan adanya AI.
AI juga memiliki dampak yang sangat luar di bidang kesehatan dengan kemampuannya untuk menganalisis data pasien, yang memungkinkan upaya pencegahan dan pengobatan secara lebih tepat.
Akan tetapi kamu tidak perlu takut bahwa robot-robot pintar akan mengambil alih dunia ini (Well, mungkin tidak dalam waktu dekat. Who knows?). Walaupun AI memiliki kemampuan yang sangat luar biasa untuk mempelajari informasi, teknologi ini belum dapat mereplikasi akal dan intuisi, yang menjadi tolak ukur manusia dalam memilih untuk melakukan hal yang baik atau buruk. AI masih sangat mengandalkan manusia dalam perkembangannya, karenanya dibutuhkan keseimbangan dalam bekerja dengan AI.
Meski belum seperti yang ada di khayalan para penulis karya fiksi ilmiah, seluruh dunia sudah merasakan dampak positif dari kehadiran AI di tengah-tengah mereka. Lagipula, belum semua manusia siap untuk dijajah oleh para robot pintar… (kali ini kami hanya bercanda…)
(Diedit oleh Pradipta Nugrahanto; sumber gambar 12345)
sumber